LOSARI TAK NYAMAN LAGI

Minggu 31 Maret 2013, saya sempat membaca sebuah berita di media online tentang seorang pengunjung anjungan Losari yang ditikam oleh oknum tukang parkir yang bertugas. Sangat ironi memang, semua tau bahwa lahan parkir di anjungan Losari dikelola oleh “preman” yang tentu saja tidak menawarkan kenyamanan bagi pengunjung. Pertanyaannya? Mengapa lahan publik seperti Losari harus dikelola oleh “preman”? Atau alasannya untuk memberdayakan mereka? Nah, bila sudah jatuh korban seperti ini siapa yang bertanggung jawab? Ataukah ini dianggap sebagai kejahatan biasa?

Anjungan Losari, seakan menjadi sesuatu yang hanya dibangun dan ditinggal tanpa perlu dirawat. Lihatlah sampah berserakan dimana-mana, lantainya sudah banyak yang pecah padahal baru berapa bulan diresmikan, belum lagi bau pesing dimana-mana akibat dari oknum gelandangan, pedagang asongan, pengamen atau preman yang buang air kecil di sembarang tempat. Beberapa fasilitas juga sudah mulai rusak, lihatlah patung-patung yang dibangun di area Anjungan Losari, tak puas berfoto dari bawah beberapa pengunjung akhirnya naik ke patung. Mungkin karena akses ke patungnya juga yang sangat gampang.

Losari memang tak nyaman lagi. Tidak ada lagi suasana nyaman seperti dulu, menikmati sunset sambil makan pisang epe tanpa gangguan pengemis, menikmati deburan ombak selat Makassar tanpa gangguan pengamen bersuara fals. Dari hari ke hari semakin banyak saja gelandangan, pengemis, pengamen, pedagang asongan dan tentunya preman, mencari duit dengan cara mereka  sendiri, di anjungan Losari.

Nah, beberapa tips berikut mungkin berguna saat anda berkunjung ke Losari:

  1. Berlagaklah sebagai orang yang biasa, jangan memakai perhiasan mencolok, selain untuk menghindari aksi premanisme, juga sebagai langkah agar pengemis dan pengamen tidak mendekat.
  2. Bila anda sedang duduk dan melihat pengamen menuju ke arah anda, maka segeralah berdiri dan beranjak untuk mencari tempat lain, bila di tempat selanjutnya anda kembali melihat pengamen menghampiri maka lakukanlah taktik tadi. Yaa inilah resiko yang harus kita alami saat berkunjung ke Losari.
  3. Jangan memberi uang kepada pengemis, satu orang yang anda berikan maka yang lain akan mendekat bahkan mengejar anda. Ada taktik jitu bila anda “dipalak” oleh pengemis apalagi pengemis anak-anak, iseng-iseng saja ajak mereka ikut ke rumah atau tinggal dengan anda, seolah-olah anda mau mengadopsi mereka, dan lihat reaksinya.
  4. Bawa makanan dan minuman dari luar, kebetulan di anjungan Losari tidak ada larangan membawa makanan dan minuman dari luar. Memang banyak pedagang asongan tapi harga dagangannya bisa 50% lebih mahal.
  5. Jaga sikap, mungkin hal yang baik bagi anda dan teman-teman tapi belum tentu baik bagi orang-orang di sekitar anda.

Kita semua berharap Losari akan tetap menjadi public space untuk semua, dimana semua yang datang kesana merasa nyaman tanpa intimidasi dari pihak manapun. Kita akan terus bermimpi Losari menjadi public space yang bersih, asri, sejuk, tempat yang sehat buat keluarga. Kita masih akan terus berharap Losari menjadi tempat terindah untuk menyaksikan sunset di selat Makassar.

Author: @rerealfareezy                                                                                                      Photos by: @rerealfareezy

This entry was posted in Alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s