AIR TERJUN BUMBUNGA BONTOSOMBA

“Berada di air terjun ini, kita akan berpikir seribu kali untuk pulang, karena perjalanannya dan juga pemandangannya…”

Itulah kata-kata yang saya ucapkan ke teman-teman saat berada di air terjun Bumbunga Bontosomba.

Air terjun Bumbunga

Petualangan kali ini adalah meng-eksplore sebuah air terjun di daerah Bontosomba kecamatan Tompobulu kabupaten maros Sulawesi Selatan. Berawal dari mengutak-atik google earth beberapa tahun lalu dan mendapatkan sebuah gambar air terjun, air terjun Bumbunga. Dipenuhi rasa penasaran, akhirnya saya mengumpulkan satu persatu data tentang tempat tersebut, tapi sayang tidak banyak info yang bisa saya dapatkan, belum banyak tulisan tentang air terjun Bumbunga. Hanya bermodal google earth saya mencari titik koordinat dan jalur menuju air terjun tersebut. Akhirnya, tanggal 2 Maret 2013, bersama 4 orang sahabat dengan menggunakan 3 motor saya menjawab rasa penasaran tentang air terjun Bumbunga.

Sabtu pagi yang cerah di kota Makassar, pukul 10 kami sepakat bertemu di sebuah tempat di jalan Hertasning. Setelah semua lengkap kami pun mengawali petualangan Ekpedisi Bontosomba dengan sama-sama berdoa. Cuaca yang cerah pagi itu mengantar perjalanan kami, di langit tak tampak awan hitam yang menggantung, bahkan ke daerah timur ke tempat yang akan kami tuju, cerah. GPS dan Odometer (pengukur jarak tempuh) sudah saya siapkan sebelum perjalanan, maklum daerah yang akan kami datangi masih asing bagi kami.

Tim ekspedisi Bontosomba (Rere, Win, Ari, Bom dan Enal)

Setelah menempuh 33 KM perjalanan, kami tiba di desa Pucak ibukota kecamatan Tompobulu saat itu sudah menunjukkan pukul 11.30, perjalanan kami memang agak lambat karena beberapa jalan menuju ke Pucak kondisinya berbatu yang memaksa kami untuk memperlambat laju kendaraan. Di Pucak kami sepakat untuk singgah istirahat di sebuah warung makan.

Setelah makan siang dan menghabiskan secangkir kopi perjalanan pun kami lanjutkan, sesuai petunjuk GPS 2 KM dari tempat singgah tadi kami akan menyeberangi sebuah jembatan gantung. Benar saja, setelah belok kiri dan agak menurun ke tepi sungai akhirnya kami menemukan sebuah jembatan gantung, jembatan ini adalah penghubung antara ibukota kecamatan dengan desa-desa lain di seberang sungai Marusuk. Sebenarnya ada jalur lain yang langsung menuju ke desa seberang sungai yaitu melalui Maccopa Maros, tapi jaraknya sangat jauh dan kondisi jalan yang belum kami tau juga. Di Pucak lah ternyata kami terakhir kami menemukan jalan beraspal, setelah menyeberangi jembatan gantung dan melewati sekitar 300 meter jalan setapak kami pun tiba di jalan desa dengan kondisi berbatu, alamat perjalanan akan semakin lambat.

Jembatan gantung di Pucak

Menurut petunjuk GPS, perjalanan akan kami tempuh sekitar 8 KM lagi untuk tiba di chek point berikut yaitu desa Masale. Perjalanan menuju desa Masale memang lambat karena kondisi jalan yang tidak bersahabat, tapi pemandangan yang tersaji di hadapan kami cukup menghibur dan menjadi pengobat kejenuhan kami, menyusuri jalan dengan sungai yang penuh batu-batu besar dan air yang sangat jernih di sisi kanan serta hamparan sawah dan bukit di sisi kiri, sungguh mata kami sangat dimanjakan oleh ini semua. Delapan KM telah kami tempuh dan sudah mulai tampak oleh kami sebuah bendungan kecil yang membelah sungai, inilah bendungan Masale. Setelah melewati jembatan di bagian atas bendungan, saya mencari tempat yang pas untuk kami beristirahat sekaligus shalat Dhuhur. Dan dari atas jembatan mata saya tertuju ke salah satu tepi sungai yang agak rindang dan berumput, kami pun menuju ke tempat tersebut. Air sungai yang jernih dan sejuk menyambut kami, setelah shalat kami menyempatkan diri untuk sekedar merendam kaki yang pegal setelah menempuh perjalanan panjang.

Medan berat yang harus dilewati

Dari chek point desa Masale erjalanan kami lanjutkan, sesuai petunjuk perjalanan menuju ke air terjun Bumbunga Bontosomba akan kami tempuh sekitar 12 KM. Nah, jalur inilah tantangan terberat kami, jalan berbatu dan berlumpur ditambah dengan beberapa pendakian sekali lagi memaksa kami untuk memperlambat laju kendaraan. Sekitar 8 KM sebelum sampai di Bontosomba motor salah satu tim mengalami masalah, kami mengambil kesempatan untuk istirahat sejenak sambil membetulkan kerusakan, Alhamdulillah kerusakannya tidak terlalu parah, perjalanan pun kami lanjutkan. Perjalanan berikut sungguh semakin menggila, batu-batu besar di tengah jalan berpadu dengan lumpur dan genangan air ditambah lagi jalan yang terus mendaki membuat kami hamper putus asa untuk melanjutkan perjalanan. Tapi rasa penasaran dan 85% perjalanan sudah kami lewati membuat kami bertahan dan harus melanjutkan perjalanan. Di kira kanan kami sudah Nampak jejeran pohon pinus dan gunung-gunung yang menjulang tinggi, sawah ladang warga menghampar di sepanjang jalan sekali lagi menjadi obat dari keletihan dan kejenuhan kami di perjalanan ini.

Tiba di sebuah sungai kecil dengan batu-batu besar yang bertaburan di sepanjang aliran sungai tersebut, kami berhenti sejenak, saya memastikan lokasi air terjun Bumbunga lewat aplikasi GPS dari gadget, kurang lebih 500 meter lagi kami akan sampai di titik air terjun tersebut. Dengan penuh semangat kami melanjutkan perjalanan, tak lagi menghiraukan jalan berbatu dan jalan menanjak di depan kami, air terjun Bumbunga yang membuat kami penasaran sudah di depan mata.

Salah satu riam di sekitar air terjun

Di koordinat 5 08’59.44 S dan 119 48’02,49 E kami berhenti, di titik inilah akhir perjalanan kami, dari tepi jalan kami harus menuruni bukit kecil sekitar 200 meter dan sampai di sebuah pos pondokan kecil yang merupakan pos pengawas dari dinas kehutanan kabupaten Maros. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 15.15 sore, saya dan teman-teman berpencar untuk mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Akhirnya kami sepakat untuk mendirikan tenda di sebuah tanah kosong tepat di tepi sungai sekitar 10 meter di atas air terjun Bumbunga. Dari tempat ini gemuruh air terjun terdengar membahana. Kami putuskan malam ini kami camping di tempat tersebut kemudian besok pagi baru kami akan turun ke dasar air terjun.

Makan di tepi sungai

Tempat kami mendirikan tenda persis di tepi sungai, adalah sebuah lahan terbuka berumput, di sekelilingnya dipenuhi tumbuhan perdu. Meskipun agak miring tapi inilah tempat yang paling pas buat kami camping malam ini. Lokasi ini hanya bisa menampung maksimal 4 tenda, selebihnya bila kita rombongan ya harus rela tidur di atas bebatuan di tepi sungai yang sebagian besar permukaannya agak rata. Di atas kami, sekitar 50 meter dari air terjun tampak juga sebuah riam kecil yang menyerupai air terjun mini. Suara kami harus beradu dengan gemuruh air sungai dan air terjun. Karena perjalanan yang jauh dan berat membuat kondisi kami kelelahan, itulah yang membuat kami cepat tertidur ditambah lagi alunan gemercik air yang tepat berada di sisi kami. Malam yang indah kami lewati di Bontosomba, beruntung cuaca malam itu sangat bersahabat.

Jalan menuju air terjun

Setelah sarapan kami memutuskan untuk mengemas barang-barang dan selanjutnya bersantai sambil menikmati air terjun Bumbunga di bawah sana. Dari pos kehutanan tempat memarkir motor kami harus berjalan kaki menuruni bukit kecil sejauh 300 meter melewati tangga-tangga batu yang sepertinya sudah disiapkan oleh masyarakat atau petugas kehutanan, meskipun terkesan seadanya. Setengah perjalanan menuruni bukit sudah tampak air terjun Bumbunga, suara gemuruhnya semakin jelas terdengar mengalahkan suara kami. Dan begitu sampai di dasar air terjun, kami terperangah menyaksikan keagungan ciptaan Tuhan, sambil berbisik saya mengucap “Allahu Akbar”. Beribu-ribu kubik air tumpah ruah dari tebing setinggi kurang lebih 30 meter, menimbulkan tiupan angin kencang membawa butiran-butiran air yang halus sampai sekitar 100 meter dari air terjun. Di bawah air terjun tampak sebuah kolam berdiameter sekitar 50 meter dengan air yang hijau kebiruan menandakan bahwa kolam tersebut dalam, itu akibat kikisan air yang jatuh dari atas tebing.

Tim ekspedisi Bontosomba di depan air terjun Bumbunga

Air terjun dengan tebing-tebing batu yang kokoh, kolam yang dalam dan luas serta hutan yang rimbun di sekitar air terjun, sungguh sangat eksotik. Terlebih, air terjun ini masih “perawan”, belum tersentuh modernisasi dan belum banyak pengunjung yang datang ke air terjun ini.

Info:

  1. Air terjun Bumbunga atau sebagian orang menamakannya air terjun Bontosomba terletak di desa Bontosomba kecamatan Tompobulu kabupaten maros
  2. Untuk sampai ke air terjun Bumbungan ada beberapa jalur antara lain lewat Maccopa Maros dan lewat Pucak
  3. Jarak Makassar – Bontosomba via Pucak sejauh 57 KM dengan kondisi jalan hanya 25% yang beraspal, selebihnya jalan berbatu
  4. Bila menggunakan angkutan umum, via Maccopa sampai ke desa Masale dengan biaya antara Rp 15.000 s/d Rp 20.000, dari Masale tersisa 12 KM lagi menuju ke Bontosomba dan tidak ada angkutan umum
  5. Jalur Makassar via Pucak:
    1. Makassar (Hertasning baru – Samata – Pattalassang (belok kiri) – Zipur – Benteng Gajah – Pucak, jarak 35 KM
    2. Pucak (menyeberangi jembatan gantung) – desa Masale, jarak 10 KM
    3. Desa Masale – desa Bontomanai – desa Bontosomba – Air terjun Bumbunga, jarak 12 KM

Jalur Makassar – Bontosomba via Pucak

Photos: @rerealfareezy @boom2s @enal_18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s