Bersama sahabat mencari damai..

Hidup di alam, berkemah, menyatu dan berbagi dengan alam. Bagi sebagian orang mungkin sebuah pekerjaan yang sia-sia. Berlindung di dalam tenda yang sempit, makan minum dan melaksanan semua aktifitas dengan kondisi yang terbatas, sementara di rumah bisa tidur enak di atas kasur empuk, makan tinggal duduk di meja makan, air yang melimpah..
Tapi ada sesuatu yang menurut kami hanya bisa kami dapat dari apa yang kami lakukan ini, kedamaian…
Masing-masing dari kita punya cara untuk mendapatkan kedamaian tersebut, sebagian mungkin dengan pergi ke pub dan sebagainya, sebagian lagi mungkin dengan berdiam di tempat ibadah, yang lain mungkin dengan shoping?? dan lain-lain, beda dengan kami yang justru mendapatkan damai tersebut di alam. Lepas dari segala penat, hiruk pikuk suasana kota, bunyi klakson kendaraan, udara yang tercemari dan sebagainya. Di alam kami bisa lepas dari itu semua, suasana yang tenang, kicau burung, suara serangga malam, gemercik air, udara yang bebas polusi, dan yang pasti kita tidak akan bertemu dengan orang-orang kota yang aneh!!
Malino, 26 Januari 2011
..bersama sahabat mencari damai, mengasah pribadi mengukir cinta…
Mahameru, judul lagu dari band DEWA19 tak henti-hentinya aku putar lewat ponsel yang aku sambungkan ke telinga dengan earpiece. Di suatu pagi di bulan februari 2011, perjalanan aku mulai bersama seorang sahabat, jhody, demikian kami akrab memanggilnya. Dengan sepeda motor kami melaju kearah timur kota Makassar menuju sebuah kota kecil di lembah gunung bawakaraeng, malino, sebuah daerah dengan dataran tinggi dengan ketinggian kurang lebih 1050 meter dari permukaan laut.
Berkeliling dan menjelajah dengan sepeda motor daerah-daerah di sekitar lembah gunung bawakaraeng, mulai dari malino, kanreapia, tombolo’ sampai ke perbatasan malino-sinjai, sore itu kami berdua sepakat untuk camp di malino. Setelah kurang lebih setengah jam berkeliling mencari tempat yang pas buat camp, akhirnya pilihan kami berdua jatuh di sebuah tempat di pinggiran hutan pinus malino. Tempat yang lumayan bagus tapi jauh dari sumber air.
Pukul setengah enam sore kabut sudah mulai turun, tampak di kejauhan puncak bawakaraeng dan lompobattang juga sudah mulai tertutup kabut tebal. Hal yang kami butuhkan setelah makan dan minum adalah perapian untuk menghangatkan badan malam ini, tapi karena kami tiba sore hari, kesempatan untuk mencari kayu bakar tidak ada lagi, di tambah dingin yang membuat kami menggigil dan malas untuk bergerak, jadinya malam ini kami lewati tanpa api unggun.
Pukul 6 pagi aku sudah terbangun, karena kedinginan dan perut kosong pastinya, kabut masih menyelimuti di sepanjang pandanganku, kabut yang sangat tebal sehingga jarak pandang tak lebih dari 10 meter. Air, adalah masalah pertama dan terberat yang harus aku pecahkan di pagi buta ini, dengan sedikit keberanian dan mengurangi rasa malu, jhody berkelana ke rumah penduduk yang lumayan jauh tempatnya dari camp kami, meminta sebotol air tujuannya.
Sarapan dengan telur dadar dan ikan kalengan betul-betul terasa sangat-sangat nikmat, selain karena suasana, perut kosong karena kedinginan menjadi faktor utama kenikmatan menu pagi ini. Sarapan alakadarnya kami tutup dengan secangkir kopi hangat (karena sangat jarang kita bisa mndapatkan kopi panas disini)
Setelah urusan perut selesai, saatnya memanjakan mata dengan pemandangan-pemandangan yang luar biasa indah.
Air terjun takapala adalah tujuan kami, kurang lebih perjalanan 6 KM dari camp. sepanjang perjalanan ke air terjun takapala kami di suguhkan dengan pemandangan yang indah sampai-sampai hanya beberapa menit perjalan kami harus singgah lagi untuk mengabadikan gambar.
Air terjun takapala, air yang jatuh dari tebing curam setinggi kurang lebih 30 meter, yang menarik dari air terjun ini adalah kita bisa menyaksikan keindahannya hanya dari tepi jalan yang kami lalui.
Air yang mengalir di air terjun takapala nantinya akan bertemu dengan sungai je’neberang yang bermuara di kota makassar, dan sebelum sampai di sungai je’neberang, aliran sungai kecil dari air terjun
Pertemuan dari jeram takapala dan sungai je’neberang juga memberi pemandangan yang bagus, sebuah bangunan kokoh berupa jembatan beton dan satunya lagi adalah jembatan gantung, yang menarik dari kedua jembatan ini adalah seluruh bagian jembatan di cat berwarna merah, sehingga warga menyebutnya “jembatan merah daraha” karena berada di kampung daraha. Ternyata bukan cuma surabaya yang punya jembatan merah..
Puas berkeliling dengan sepeda motor, saanya relax sejenak sambil menikmati sejuknya hutan pinus malino.
Puas…puasss dan puass…
Perjalanan harus berakhir, dan terpaksa harus kembali dunia yang sesungguhnya, kota… Kembali harus bertemu dengan orang2 aneh, suasana yang sumpek, raungan bunyi kendaraan, udara yang kotor dan… berita politik!!!!

This entry was posted in Alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s